Join ViralMoneyList.com

Khamis, 30 April 2009

0

Keutamaan dalam pengajian akidah

Apabila seseorang baru memeluk Islam, maka ramailah orang Islam di
sekelilingnya yang menawarkan diri menjadi 'ustaz' dan mahu memberi
tunjuk ajar kepadanya. Mereka merasakan diri mereka yang telah lama
Islam sudah tentulah lebih mengetahui selok-belok agama jika
dibandingkan dengan si muallaf itu.

Namun, kebanyakan mereka ini tidak mengetahui apa yang disebutkan
sebagai "awlawiyat" (keutamaan/priority) dalam agama.

Ada di kalangan mereka yang sibuk menyuruh si muallaf itu belajar
mengaji (recite) al-Quran. Sedangkan mempelajari bacaan (recitation)
al-Quran hanyalah fardhu kifayah, kecuali bacaan surah al-Fatihah yang
menjadi rukun dalam solat.

Ada juga yang memberat-beratkan si muallaf dengan perkara-perkara fiqh
tanpa mengambil kira keadaan muallaf yang baru sahaja cuba
menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sebagai seorang muslim.
Keadaan ini bukan sahajamemberi kejutan kepada muallaf tersebut, malah
mengelirukan muallaf tentang konsep Islam yang sebenar.

Lebih teruk dari itu, muallaf yang memeluk Islam kerana hendak
berkahwin pula disibukkan oleh pihak bakal mertua dengan urusan
hantaran, persiapan perkahwinan, pendaftaran dsb. Akhirnya si muallaf
tidak berkesempatan atau hilang minat untuk mempelajari asas-asas
Islam. Maka tidak hairanlah jika terdapat muallaf yang ingin kembali
ke agama asal setelah gagal dalam perkahwinan mereka.

Ini semua berlaku kerana masyarakat Islam kita lebih mengutamakan
perkara-perkara fiqh berbanding akidah. Jadi, apabila seorang muallaf
memeluk Islam, mereka juga cuba membawa si muallaf itu ke arah cara
pemikiran yang sama.

Mereka perlu sedar bahawa dengan menguasai perkara-perkara fiqh
semata-mata tidak menjamin seseorang itu – samaada muallaf atau mereka
yang telah lama memeluk Islam – untuk kekal dalam akidah Islam.
Menguasai bacaan al-Quran juga tidak menjamin seseorang itu kekal
dalam Islam. Menghafaz ayat-ayat al-Quran tanpa memahami maknanya juga
tidak menjamin seseorang itu tidak keluar dari Islam.

Sabtu, 25 April 2009

0

Benarkah Kita Berjuang ... ?

Wahai orang yang beriman ! Apa yang telah berlaku kepada kamu ?

Apabila kamu diseru , agar turun ke medan untuk memperjuangkan agama
Allah swt. tiba - tiba kamu memberatkan papan punggung kamu ke
permukaan bumi [ malas ]

Kenapa jadi begitu ? adakah kerana kamu lebih sayang kepada kehidupan
dunia berbanding kehidupan akhirat ?

Ketahuilah ! sesungguhnya kehidupan dunia yang kamu dambakan itu ,
berbanding akhirat yang telah dijanjikan oleh Allah swt. adalah sangat
kecil nilainya disisi Allah swt .

Jika sekiranya kamu lengah untuk menunaikan amanah perjuangan ,
nescaya kamu akan diazab oleh Allah swt dengan azab yang sangat pedih
.

Maksud Firman Allah swt dari surah at Taubah . Ayat : 38 - 39

Seseketika dalam mengharungi perjuangan ini , alangkah kita duduk
sejenak untuk menganalisa atau bermuhasabah diri . Memandang jauh ke
dalam jiwa dengan menyelaminya secara jujur dan telus terhadap diri
sendiri . Lalu kita ajukan pada diri satu soalan , benarkah kita
berjuang ?

Berjuang yang dimaksudkan di sini ialah bekerja gigih dengan segala
upaya dan daya malah mengambil segala ruang dan peluang untuk
menjulang kalimah Allah swt sehingga ia mengatasi ideologi ciptaan
manusia , meskipun terpaksa berhadapan dengan tribulasi dan implikasi
yang mengancam kepentingan diri .

Atas alasan dan tujuan tersebut , kita menyertai jamaah Islam ini bagi
memastikan aspirasi perjuangan suci itu dapat kita laksanakan secara
lebih berkesan . Persoalannya , benarkah kita berjuang ?

Benarkah kita berjuang ? , kalau hanya mengisi borang dan mendaftar
diri sebagai anggota jamaah Islam tetapi gagal untuk komited [ iltizam
] dengan segala aktiviti amal jamaei yang dianjurkan oleh jamaah .
Kita hanya mampu mentarbiyah tetapi tidak boleh ditarbiyah . Mampu
mengarah tetapi tidak boleh diarah . Mampu menegur tetapi tidak boleh
ditegur .

Benarkah kita berjuang ? , dengan hanya semata - mata kerap
menghadhiri ceramah - ceramah umum tetapi liat untuk hadir dan
menekuni program - program khusus seperti usrah , liqa fikri , tamrin
, mukhayyam dan pelbagai aktiviti spiritual seperti qiamulail , al
mathurat dan zikrullah . Program ceramah dilihat lebih penting sebab
kita dapat publisiti sedang usrah ni hanya dihadhiri oleh 10 orang ,
tidak glamour langsung !

Benarkah kita berjuang ? , apabila kita selalu sahaja gagal
melaksanakan amanah dan tanggungjawab yang telah digalaskan ke atas
pundak kita sebagai pimpinan jamaah walau dimana peringkat posisi
kepimpinan kita . Mesyuarat sering tidak hadhir dan kalau pun hadhir
hanya dengan kepala kosong . Lebih malang , ada mesyuarat dalam
mesyuarat dan ada mesyuarat selepas mesyuarat .

Benarkah kita berjuang ? , sedang banyak masa kita habiskan untuk
bersahaja dan mengelamun dalam mengimpi kemenangan . Hanya pandai
mengomel dan mengkritik kesalahan anggota jamaah yang lain tetapi kita
sendiri hanya mampu berdiri di tepian gelanggang . Kerja kita tidak
beres tetapi nak ambil kerja orang lain . Kalut tidak bertempat .

Benarkah kita berjuang ? , seringkali kita mengabaikan hak ukhuwwah
atau persaudaraan Islam sesama anggota . Cepat berburuk sangka malah
sedikit berbeza pendapat kita terus menyerang pemikiran dan
peribadinya seolah - seolah ia adalah musuh tradisi perjuangan kita .
Kita rasa hanya kita sahaja yang hebat , berilmu dan berpengalaman .
Pintar berhujjah dan berdebat . Kita pandang sahabat pun hanya dengan
sebelah mata , penuh rasa benci . Senyum dan bersalam hanya untuk
bermuka - muka .

Benarkah kita berjuang ? , suka sangat kita dedahkan rahsia jamaah .
Setiap bilah dan patah perkataan yang dibincang dalam mesyuarat kita
tulis dalam blog atau web site . Kita jadikan ia bahan sensasi untuk
melariskan web site kita jua dengan harapan orang kata kita berani
menegakkan kebenaran dan berani melampirkan fakta . Hanya kita yang
mahu mempertahankan Islam dan jamaahnya sedang orang lain adalah
pengkhianat yang perlu ditumpaskan .

Benarkah kita berjuang ? , kerana wawasan dan sesuatu gagasan
pemikiran itu dilahirkan oleh pemimpin atau anggota jamaah yang kita
tidak suka , maka kita tolak mentah - mentah . Lebih malang kita kasar
dalam menolak dan kita lancang dalam berbicara . Langsung kita tidak
hiraukan adab ikhtilaf sebaliknya apa yang kita inginkan ialah
bagaimana kita nak menang dan pandangan kita yang diterima pakai .

Rabu, 22 April 2009

0

BERMAIN RABANA DI MASJID

Saudaraku yang kumuliakan, Didalam madzhab syafii bahwa Dufuf (rebana) hukumnya Mubah secara Mutlak (Faidhulqadir juz 1 hal 11), diriwayatkan pula bahwa para wanita memukul rebana menyambut Rasulullah saw disuatu acara pernikahan, dan Rasul saw
mendengarkan syair mereka dan pukulan rebana mereka, hingga mereka berkata : bersama kami seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi”, maka Rasul saw bersabda : “Tinggalkan kalimat itu, dan ucapkan apa apa yang sebelumnya telah kau
ucapkan”. (shahih Bukhari hadits no.4852), juga diriwayatkan bahwa rebana dimainkan saat hari asyura di Madinah dimasa para sahabat radhiyallahu ‘anhum (sunan Ibn Majah hadits no.1897)

Dijelaskan oleh Imam Ibn Hajar bahwa Duff (rebana) dan nyanyian pada pernikahan diperbolehkan walaupun merupakan hal lahwun (melupakan dari Allah), namun dalam pernikahan hal ini (walau lahwun) diperbolehkan (keringanan syariah karena
kegembiraan saat nikah), selama tak keluar dari batas batas mubah, demikian sebagian pendapat ulama (Fathul Baari Almasyhur Juz 9 hal 203). Menunjukkan bahwa yang dipermasalahkan mengenai pelarangan rebana adalah karena hal yang Lahwun (melupakan dari Allah), namun bukan berarti semua rebana haram karena Rasul saw memperbolehkannya, bahkan dijelaskan dengan Nash Shahih dari Shahih Bukhari, namun ketika mulai makna syairnya menyimpang dan melupakan dari Allah swt maka Rasul saw melarangnya,

Demikianlah maksud pelarangannya di masjid, karena rebana yang mengarah pada musik lahwun, sebagian ulama membolehkannya di masjid hanya untuk nikah walaupun Lahwun, namun sebagian lainnya mengatakan yang dimaksud adalah diluar masjid, bukan didalam masjid, Pembahasan ini semua adalah seputar hukum rebana untuk gembira atas akad nikah dengan lagu yang melupakan dari Dzikrullah.

Berbeda dengan rebana dalam maulid, karena isi syairnya adalah shalawat, pujian pada Allah dan Rasul Nya saw, maka hal ini tentunya tak ada khilaf padanya, karena khilaf adalah pada lagu yang membawa lahwun. Sebagaimana Rasul saw tak melarangnya, maka muslim mana pula yang berani mengharamkannya, sebab pelarangan di masjid adalah membunyikan hal yang membuat lupa dari Allah didalam masjid,

Sebagaimana juga syair yang jelas jelas dilarang oleh Rasul saw untuk dilantunkan di masjid, karena membuat orang lupa dari Allah dan masjid adalah tempat dzikrullah, namun justru syair pujian atas Rasul saw diperbolehkan oleh Rasul saw di masjid,
demikian dijelaskan dalam beberapa hadits shahih dalam shahih Bukhari, bahkan Rasul saw menyukainya dan mendoakan Hassan bin Tsabit ray g melantunkan syair di masjid, tentunya syair yang memuji Allah dan Rasul Nya.

Saudaraku, rebana yang kita pakai di masjid itu bukan Lahwun dan membuat orang lupa dari Allah, justru rebana rebana itu membawa muslimin untuk mau datang dan tertarik hadir ke masjid, duduk berdzikir, melupakan lagu lagu kafirnya, meninggalkan
alat alat musik setannya, tenggelam dalam dzikrullah dan nama Allah swt, asyik ma'syuk menikmati rebana yang pernah dipakai menyambut Rasulullah saw, Mereka bertobat, mereka menangis, mereka asyik duduk di masjid, terpanggil ke masjid, betah di masjid, perantaranya adalah rebana itu tadi dan syair syair Pujian pada Allah dan Rasul Nya

Dan sebagaimana majelis kita telah dikunjungi banyak ulama, kita lihat bagaimana Guru Mulia Al hafidh Al habib Umar bin hafidh, justru tersenyum gembira dengan hadroh majelis kita, demikian pula AL Allamah Alhabib Zein bin Smeth Pimpinan
Ma'had Tahfidhul qur'an Madinah Almunawwarah, demikian pula Al Allamah Al Habib Salim bin Abdullah Asyatiri yang Pimpinan Rubat Tarim juga menjadi Dosen di Universitas AL Ahqaf Yaman, .demikian AL Allamah ALhabib Husein bin Muhamad Alhaddar, Mufti wilayah Baidha, mereka hadir di majelis kita dan gembira, tentunya bila hal ini mungkar niscaya mereka tak tinggal diam, bahkan mereka memuji majelis kita sebagai majelis yang sangat memancarkan cahaya keteduhan melebih banyak majelis majelis lainnya.

Mengenai pengingkaran yang muncul dari beberapa kyai kita adalah karena mereka belum mencapai tahqiq dalam masalah ini, karena tahqiq dalam masalah ini adalah tujuannya, sebab alatnya telah dimainkan dihadapan Rasulullah saw yang bila alat itu merupakan hal yang haram mestilah Rasul saw telah mengharamkannya tanpa membedakan ia membawa manfaat atau tidak, namun Rasul saw tak melarangnya, dan larangan Rasul saw baru muncul pada saat syairnya mulai menyimpang, maka jelaslah bahwa hakikat pelarangannya adalah pada tujuannya.

(Diambil dari Kitab Kenalilah Akidahmu karangan Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa)

Wallahu a’lam